Merencanakan Keuangan dgn SMART

Dalam peristiwa isra mi'raj Nabi Muhammad SAW pada suatu waktu melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Kemudian naik ke langit sidhatul Muntaha. Maka hidup kita juga merupakan sebuah perjalanan dari semenjak lahir sampai kita tua nanti, kemudian wafat.

Untuk apa kita menjalani proses hidup ini, tentu ada tujuannya. Tiap orang berbeda tujuan hidupnya. Orang yang tidak mempunyai tujuan hidup, bergerak tanpa arah. Hidupnya dipadati dengan kesibukan, tetapi tidak tahu mengapa melakukannya.


Perencana keuangan ibarat sebuah perjalanan. Kita bergerak dari satu posisi financial menuju ke posisi finansial berikutnya yang lebih baik. Jika tidak menetapkan mau kemana kita pada masa depan secara financial. Anda bisa jadi tetap bergerak tetapi tidak pada tempat yang anda inginkan. Ini namanya terseret arus.
Agar tidak terseret arus maka dalam menentukan tujuan keuangan keluarga, Kita bisa menggunakan metode SMART.

S= Specific = Tujuan keuangan harus jelas objeknya/targetnya.

Contoh : saya ingin hidup sejahtera. Sejahtera adalah suatu tujuan hidup umum. Keluarga sejahtera pada dasarnya harus bisa memenuhi kebutuhannya akan tempat tinggal, kendaraan, tabungan untuk nasa sulit atau untuk kebutuhan masa depan, termasuk pendidikan anak. Jadi objeknya harus mengacu kepada sesuatu. Contoh : saya ingin memiliki rumah.

M=Measurable = Terukur jumlahnya.

Tujuan keuangan juga harus bisa terukur, agar jelas berapa jumlah uang yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan keuangan itu. Contoh : Saya ingin membeli rumah seharga Rp.500 juta.

A= Attainable=Mampu.

Tujuan keuangan juga harus bisa dicapai dalam batas kemampuan. Anda boleh saja merasa yakin dengan kekuatan anda, tetapi jangan memaksa diri diluar batas. Ini berkaitan dengan bagaimana cara anda mencapai tujuan tersebut. Contoh : saya ingin penghasilan saya naik 10 kali lipat. Ini tentunya membutuhkan usaha keras luar biasa agar penghasilan anda r itu. Target yang terlalu tinggi justru akan kontraproduktif.

R = Realistic = Masuk akal.

Tujuan keuangan juga harus masuk akal. Contoh : saya menginginkan kinerja postofolio investasi pada kepiawaian anda atau manager investasi anda dalam mengelola dana investasi. Namun, sebaiknya tidak over aprecited. Harus ada tolak ukur, patokan atau benchmark yang tepat untuk mengukur kinerja porto-folio tersebut. Sekonyong-konyong menetapkan target tanpa mempertimbangkan performa rata-rata pasar, tentunya sangat tidak tepat.

T=Time centric = jangka waktu.

Tujuan keuangan juga harus memiliki jangka waktu, sehingga dapat dihitung dengan akurat berapa jumlah dana yang harus dialokasikan untuk mencapai tujuan tersebut. Juga dapat dipilih dengan tepat produk investasi apa yang cocok untuk itu. Contoh : Saya ingin punya rumah setara rp.500 juta 10 tahun lagi. Jika asumsi inflasi adalah 10% per tahun. Dan masa 10 tahun adalah masa yang panjang, kita bisa menggunakan saham atau reksadana saham sebagai instrumen investasinya.

Untuk info lebih detail berapa yang harus diinvestasitan perbulannya silahkan hubungi financial planner anda.

Tidak ada kekayaan yang dapat dicapai secara instan, tetapi melalui pelaksanaan rencana keuangan yang dilakukan secara konsisten. Seperti kata pepatah “Pengulangan adalah ibu dari kesempurnaan”.