Asuransi Pendidikan Syariah ala Nabi Yusuf AS

Topik perencanaan keuangan bisa dikatakan masih sangat baru di Indonesia. Padahal di negara maju seperti Amerika Serikat dan Singapura, Perencanaan Keuangan atau istilah kerennya Financial Planning ini sudah bukan lagi benda aneh. Tapi kalau kita jeli melihat sejarah, ternyata perencanaan keuangan ini sudah dipraktekan dengan baik sejak ribuan tahun yang lalu.

Alkisah pada suatu zaman di negeri Mesir. Raja bermimpi bahwa ia melihat tujuh ekor sapi yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus. Dan Raja juga melihat dalam mimpinya tujuh tangkai gandum yang subur, dan tujuh tangkai gandum yang kurus.

Singkat cerita, Yusuf pun menafsirkan mimpi raja. Negara akan menghadapi masa sejahtera selama 7 tahun berturut-turut. Panen berhasil dengan baik, ternak berkembang biak, dan tanam-tanaman tumbuh dengan subur. Seusainya, musim paceklik akan tiba selama 7 tahun berturut-turut pula setelah masa subur. Udara panas dan kering, tumbuhan tidak berbuah, ternak kurus kekurangan makan dan air, dan manusia pun akan mengalam kelaparan. Setelah tujuh tahun berlalu, barulah kemudian masa subur datang kembali. Pesan Yusuf kemudian, jika tafsir mimpi ini benar, hendaklah negara menyimpan gandumnya dan persediaan yang lainnya ketika masa subur datang. Agar pada masa paceklik nanti, tersedia pangan yang cukup dan tidak terjadi kelaparan.

Melihat kecerdasan Yusuf dan akhlaknya yang terpuji, raja pun mengangkat Yusuf menjadi salah seorang menteri yang berkuasa. Yusuf tahu bahwa makanan dan uang lah yang menjadi pokok pangkal kemakmuran dan kesengsaraan suatu bangsa. Dia pun meminta agar ditempatkan sebagai salah seorang menteri yang bertanggungjawab atas kemakmuran ekonomi dan keuangan.

Atas kewenangan yang dimilikinya dan pengetahuannya akan tafsir mimpi raja, Nabi Yusuf pun mengatur agar persediaan pangan disimpan dengan baik selama masa subur ini. Lumbung-lumbung pun dibangun, para petani diminta untuk tidak terlena dan terus meningkatkan produktifitas selama masa subur, penduduk negeri diminta untuk berhemat dan bersiap menghadapi masa sulit nanti.

Tujuh tahun kemudian, sesuai dengan tafsir mimpinya, masa paceklik pun tiba. Udara panas terik tanpa hujan. Ladang kering dan ternak pun mati. Walaupun tak ada panen dan ternak, penduduk Mesir kala itu tidak mengalami kelaparan karena persediaan pangan yang disimpan cukup memadai untuk penduduk seluruh negeri. Tidak sia-sia usaha Nabi Yusuf as memimpin dengan bijaksana untuk mengadakan persiapan menghadapi masa sulit yang sudah diprediksi sebelumnya.

Ternyata, bukan hanya Mesir yang mengalami musim paceklik. Negeri-negeri tetangga pun mengalami hal yang sama. Namun hanya Mesir yang memiliki kestabilan ekonomi karena perencanaan yang sudah dibuat dan dijalankan dengan baik. Kisahnya tidak berhenti sampai disini saja. Karena hal ini kemudian dijadikan sebagai pelajaran yang sangat berharga dalam pengelolaan kesejahteraan suatu bangsa hingga sekarang.
Sungguh kisah ini sarat dengan makna perencanaan keuangan. Bagaimana Nabi Yusuf as menyusun rencana dan strategi memanfaatkan masa subur dan menyimpan persediaan untuk menghadapi masa sulit kemudian.

Begitulah dalam kehidupan kita, terkadang masa subur datang, tidak jarang pula masa sulit menerpa. Masalahnya adalah, sudahkah kita mempersiapkan masa depan baik. Memang betul kita tidak dapat meramal apa yang akan terjadi di masa depan.
Tapi dengan mudah kita bisa memprediksi, bahwa 6 tahun setelah anak kita lahir ia sudah akan butuh biaya untuk masuk SD. 6 tahun kemudian ia akan masuk SMP. 3 tahun kemudian akan masuk SMA, dan 3 tahun selanjutnya ia masuk perguruan tinggi. Dengan mudah pula kita bisa memprediksi bahwa pada usia 55 tahun nanti, perusahaan sudah tidak akan mau memperkerjakan kita lagi. Tanpa pekerjaan, tanpa gaji.
Artinya, masa sulit sudah bisa prediksi kapan akan terjadi. Setidaknya kita bisa tahu bahwa di masa depan nanti kita butuh sumber finansial yang cukup besar seperti untuk pendidikan anak, dan sebagainya.

Belajar dari Nabi Yusuf as, kita tidak boleh diam saja dan membiarkan segala terjadi begitu saja. Perlu rencana dan strategi untuk menghadapi masa sulit. Itulah esensi dari perencanaan keuangan. Memanfaatkan masa sejahtera untuk menghadapi masa sulit.
Posted by Ahmad Gozali, perencana keuangan.

Demikian pula untuk masa depan putra/putri kita. Sesuai dgn QS An Nisa ayat 8, kita tidak boleh meninggalkan anak keturunan kita dalam keadaan lemah, maka untuk menjaga amanah Allah tsb, kita wajib mempersiapkan dana pendidikannya.

Alhamdullilah di Takaful ada Fulnadi, Asuransi Pendidikan Syariah dengan nilai proteksi yang tinggi, double proteksi, tidak ada dana hangus, dll dan diinvestasikan ke sektor real.

Juga ada Takafulink Alia, Diinvestasikan mayoritas disektor saham, hasil lebih optimal, bisa untuk dana pensiun, beribadah, dana cadangan dan bisa untuk asuransi pendidikan syariah, karena setelah 1 th sudah liquid.